Kamis, 02 Juni 2016

PERSIB akulah Pendukungmu



Bagi orang Bandung mendukung  Persib tak ubahnya sebuah warisan
 


Persib Bandung adalah tim sepakbola yang lahir dari kota Bandung, namun tim sepakbola ini sangat digemari dan dicintai oleh seluruh masyarakat Jawa barat. Tak dapat dipungkiri bahwa PERSIB telah menjadi bagian dari budaya masyarakat sunda. Fanatisme BOBOTOH dalam mendukung Persib sangatlah luar biasa. Seolah-olah PERSIB telah menjadi bagian besar dalam hidup mereka. Banyak dari mereka meluangkan tenaga, pikiran, waktu dan tentunya materi, hanya untuk menyaksikan PERSIB berlaga. Mereka rela melakukan apapun hanya untuk mendukung klub kebanggaannya bertanding. Tradisi bobotoh dalam mendukung persib itu terjadi secara turun temurun dari generasi ke generasi, dari kakek turun ke ayah lalu ke anak dan cucu.

                                                                     (gambar dari google)

Pengalaman Pertama Menonton Persib
Saya yang lahir dan besar di kota bandung juga sudah sangat menggilai persib dari sejak masih duduk di bangku sekolah dasar dulu. Bapak saya yang berjasa pertama kali memperkenalkan saya pada persib, karena memang bapak sudah sejak masih muda menggemari persib. Singkat cerita pada awal tahun 2000an saat itu bapak yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di PT.Pindad Bandung harus berpindah dinas ke Kodam III Siliwangi, pada masa itulah fase dimana bapak sering sekali menonton langsung Persib bertanding di stadion siliwangi karena jarak stadion siliwangi yang sangat dekat dengan kantor dan juga jika memakai seragam kantor bisa masuk stadion tanpa harus membeli tiket hehe, karena memang panpel pertandingan pada saat itu belum seketat dan profesional seperti sekarang. 

Semenjak bapak dinas di Kodam III Siliwangi saya Beberapa kali diajak untuk ikut nonton persib ke stadion Siliwangi, padahal waktu itu saya tidak terlalu suka dengan olahraga sepakbola, namun semenjak sering diajak nonton ke stadion saya jadi mulai tau beberapa nama pemain persib saat itu seperti Sutiono, Mulyana, Hendra Komara, yaris riyadi dan asep dayat. Pengalaman pertama kalinya diajak nonton persib di stadion siliwangi itu saat saya kelas 5 SD, persib bertanding di siliwangi melawan tim dengan kostum berwarna putih (gak tau timnya apa saya lupa hehe). Biasanya bapak pulang dari kantor ke rumah jam 5 sore, namun pada hari itu bapak pulang lebih awal jam 12 sudah pulang, ternyata bapak pulang lebih cepat bukan tanpa alasan tapi karena ingin menonton pertandingan kandang persib di siliwangi. Waktu itu kebetulan sekolah sedang libur karena sedang ada ujian PRA EBTA kelas 6 (kalau sekarang namanya Latihan UN mungkin ya?.. ). Saya diajak untuk ikut menonton persib bertanding di siliwangi. Kami pun bergegas pergi menuju stadion siliwangi dengan menggunakan motor vespa, saat itu bapak mengajak juga dua rekannya yang bertemu di jalan tongkeng, yang satu berseragam tentara yang satunya lagi mengenakan seragam PNS Kodam. Pertandingan akan dimulai jam setengah empat sore, kira-kira jam 3 sore kami mulai masuk stadion, kami nonton di tribun timur. Saat itu Stadion sudah sangat padat oleh penonton berseragam biru biru, seluruh tempat duduk sudah penuh, akhirnya kami berdiri di tribun paling atas dekat papan skor. Saat pertandingan belum dimulai penonton masih pada duduk namun saat peluit dibunyikan tanda pertandingan dimulai seluruh penonton berdiri, saya yang masih berusia 11 tahun dan bertubuh kecil jelas tak bisa melihat para pemain dilapangan karena terhalang oleh penonton lainnya yang bertubuh besar-besar. Karena tak bisa melihat persib di lapangan, maka perhatian saya tertuju pada para penonton disekitar, atribut yang mereka bawa unik unik seperti bendera, syal, topi tanduk dan ada juga yang mengecat wajahnya dengan warna biru. Suasana penonton yang ramai dan sangat meriah dengan nyanyian yel-yel diiringi suara tambur membuat saya sangat takjub dan terkesan melihatnya.

Pada pertandingan tersebut persib menang 1-0, namun saat pulang penonton berdesakan saat akan keluar stadion, saya terhimpit ditengah-tengah kerumunan dan hampir terjatuh karena dorongan dari belakang, bapak saya pun sedikit teriak-teriak dengan nada emosi “kaleum euy ulah suntrang suntrung atuh!” (tenang jangan dorong-dorongan!). saya memegang erat tangan bapak karena takut terpisah dari kerumunan. Akhirnya kami bisa keluar dari tribun stadion dengan selamat. saya dan bapak langsung menuju tempat parkir motor sedangkan kedua rekannya kembali pulang menuju rumah dinasnya di jalan tongkeng.

Semejak hari itu pertama kali menonton persib di stadion siliwangi, meskipun ada sedikit insiden berdesakan saat keluar stadion saya tidak kapok, tapi saya mulai menyukai persib dan terkesan melihat para penontonnya. Dalam hati saya pada saat itu yang masih polos saya berbicara dan membayangkan jika suatu hari nanti saya ingin menjadi bagian dari para bobotoh itu, berdiri tegak di dalam stadion memberi dukungan pada sang pangeran biru berlaga.

Itulah sedikit cerita singkat dan pengalaman sederhana pertama kalinya saya menonton persib di stadion saat masih SD dulu. Orang tua lah yang pertama mengenalkan persib.
Begitu memang kultur suporter sepakbola di Bandung, Bagi orang Bandung mendukung  Persib tak ubahnya sebuah warisan.

                                           (foto di stadion Siliwangi tahun 2012)


Ketika harga diri dan kebanggaan kita terusik, saat itu kita mesti bangkit. Membela harga diri ternyata membanggakan dan rasanya begitu indah. -Ayi Beutik-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar