Bagi orang Bandung
mendukung Persib tak ubahnya sebuah warisan
Persib Bandung adalah tim sepakbola yang lahir dari kota
Bandung, namun tim sepakbola ini sangat digemari dan dicintai oleh seluruh
masyarakat Jawa barat. Tak dapat dipungkiri bahwa PERSIB telah menjadi bagian
dari budaya masyarakat sunda. Fanatisme BOBOTOH dalam mendukung Persib
sangatlah luar biasa. Seolah-olah PERSIB telah menjadi bagian besar dalam hidup
mereka. Banyak dari mereka meluangkan tenaga, pikiran, waktu dan tentunya
materi, hanya untuk menyaksikan PERSIB berlaga. Mereka rela melakukan apapun hanya
untuk mendukung klub kebanggaannya bertanding. Tradisi bobotoh dalam mendukung
persib itu terjadi secara turun temurun dari generasi ke generasi, dari kakek
turun ke ayah lalu ke anak dan cucu.
(gambar dari google)
Pengalaman Pertama Menonton Persib
Saya yang lahir dan besar di kota bandung juga sudah sangat
menggilai persib dari sejak masih duduk di bangku sekolah dasar dulu. Bapak
saya yang berjasa pertama kali memperkenalkan saya pada persib, karena memang
bapak sudah sejak masih muda menggemari persib. Singkat cerita pada awal tahun
2000an saat itu bapak yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di PT.Pindad Bandung
harus berpindah dinas ke Kodam III Siliwangi, pada masa itulah fase dimana
bapak sering sekali menonton langsung Persib bertanding di stadion siliwangi
karena jarak stadion siliwangi yang sangat dekat dengan kantor dan juga jika
memakai seragam kantor bisa masuk stadion tanpa harus membeli tiket hehe,
karena memang panpel pertandingan pada saat itu belum seketat dan profesional
seperti sekarang.
Semenjak bapak dinas di Kodam III Siliwangi saya Beberapa
kali diajak untuk ikut nonton persib ke stadion Siliwangi, padahal waktu itu
saya tidak terlalu suka dengan olahraga sepakbola, namun semenjak sering diajak
nonton ke stadion saya jadi mulai tau beberapa nama pemain persib saat itu seperti
Sutiono, Mulyana, Hendra Komara, yaris riyadi dan asep dayat. Pengalaman
pertama kalinya diajak nonton persib di stadion siliwangi itu saat saya kelas 5
SD, persib bertanding di siliwangi melawan tim dengan kostum berwarna putih
(gak tau timnya apa saya lupa hehe). Biasanya bapak pulang dari kantor ke rumah
jam 5 sore, namun pada hari itu bapak pulang lebih awal jam 12 sudah pulang, ternyata
bapak pulang lebih cepat bukan tanpa alasan tapi karena ingin menonton
pertandingan kandang persib di siliwangi. Waktu itu kebetulan sekolah sedang
libur karena sedang ada ujian PRA EBTA kelas 6 (kalau sekarang namanya Latihan
UN mungkin ya?.. ). Saya diajak untuk ikut menonton persib bertanding di
siliwangi. Kami pun bergegas pergi menuju stadion siliwangi dengan menggunakan
motor vespa, saat itu bapak mengajak juga dua rekannya yang bertemu di jalan
tongkeng, yang satu berseragam tentara yang satunya lagi mengenakan seragam PNS
Kodam. Pertandingan akan dimulai jam setengah empat sore, kira-kira jam 3 sore
kami mulai masuk stadion, kami nonton di tribun timur. Saat itu Stadion sudah
sangat padat oleh penonton berseragam biru biru, seluruh tempat duduk sudah
penuh, akhirnya kami berdiri di tribun paling atas dekat papan skor. Saat
pertandingan belum dimulai penonton masih pada duduk namun saat peluit
dibunyikan tanda pertandingan dimulai seluruh penonton berdiri, saya yang masih
berusia 11 tahun dan bertubuh kecil jelas tak bisa melihat para pemain
dilapangan karena terhalang oleh penonton lainnya yang bertubuh besar-besar. Karena
tak bisa melihat persib di lapangan, maka perhatian saya tertuju pada para
penonton disekitar, atribut yang mereka bawa unik unik seperti bendera, syal,
topi tanduk dan ada juga yang mengecat wajahnya dengan warna biru. Suasana penonton
yang ramai dan sangat meriah dengan nyanyian yel-yel diiringi suara tambur
membuat saya sangat takjub dan terkesan melihatnya.
Pada pertandingan tersebut persib menang 1-0, namun saat
pulang penonton berdesakan saat akan keluar stadion, saya terhimpit
ditengah-tengah kerumunan dan hampir terjatuh karena dorongan dari belakang, bapak
saya pun sedikit teriak-teriak dengan nada emosi “kaleum euy ulah suntrang suntrung atuh!” (tenang jangan
dorong-dorongan!). saya memegang erat tangan bapak karena takut terpisah
dari kerumunan. Akhirnya kami bisa keluar dari tribun stadion dengan selamat. saya
dan bapak langsung menuju tempat parkir motor sedangkan kedua rekannya kembali
pulang menuju rumah dinasnya di jalan tongkeng.
Semejak hari itu pertama kali menonton persib di stadion
siliwangi, meskipun ada sedikit insiden berdesakan saat keluar stadion saya tidak
kapok, tapi saya mulai menyukai persib dan terkesan melihat para penontonnya.
Dalam hati saya pada saat itu yang masih polos saya berbicara dan membayangkan
jika suatu hari nanti saya ingin menjadi bagian dari para bobotoh itu, berdiri
tegak di dalam stadion memberi dukungan pada sang pangeran biru berlaga.
Itulah sedikit cerita singkat dan pengalaman sederhana pertama
kalinya saya menonton persib di stadion saat masih SD dulu. Orang tua lah yang
pertama mengenalkan persib.
Begitu memang kultur suporter sepakbola di Bandung, Bagi orang Bandung
mendukung Persib tak ubahnya sebuah warisan.
Ketika harga diri dan kebanggaan kita terusik, saat itu kita mesti bangkit. Membela harga diri ternyata membanggakan dan rasanya begitu indah. -Ayi Beutik-



Tidak ada komentar:
Posting Komentar